Frontpage Slideshow (version 2.0.0) - Copyright © 2006-2008 by JoomlaWorks

Tema dan Sub Tema Pesparawi XI

Read more...

 

Keputusan Ketua Umum

 

 

Lampiran Keputusan Ketua Umum

 

Keterangan:  Ch = Champion; G = Gold (Emas); S = Silver (Perak); B = Brown (Perunggu)


Ditetapkan di Kendari
Pada tanggal 9 Juli 2012
KETUA UMUM LPPN,


DR. SAUR HASUGIAN, M.Th

 

KEPUTUSAN DIREKTUR

 

 

 

Tema PESPARAWI XI Tahun 2015 di Ambon - Maluku

Tema PESPARAWI  XI  Tahun  2015 di Ambon - Maluku

“Sungguh Alangkah Baik dan Indahnya Hidup dalam Persaudaran yang Rukun”
(Bdk. Maz. 133: 1)

Sub Tema

“Melalui Puji-pujian Kita Pererat Kasih Persudaraan dalam rangka Mewujudkan Indonesia yang Adil-Sejahtera, Demokratis, serta Menghargai Kemajemukan”

PENJELASAN
Pendahuluan

Dalam perjalanan yang cukup lama, kurang lebih 30 tahun, Pesparawi Nasional (Pesta Paduan Suara Gerejawi Tingkat Nasional) telah menunjukkan eksistensinya menjadi salah satu kegiatan yang sangat efektif untuk mewujudkan keesaan gereja di Indonesia melalui aktivitas bernyanyi.
Bahkan lebih dari itu, pesparawi sesungguhnya merupakan wujud kesaksian kabar baik secara bersama-sama dari gereja-gereja di Indonesia melalui perjumpaan warga gereja dan kelompok paduan suara gerejawi. Inilah nilai yang penting dari sebuah pelaksanaan Pesparawi; Ia juga merupakan cerminan dari persekutuan itu sendiri, karena ia dapat mempertemukan umat Tuhan dari berbagai denominasi. Melalui kegiatan Pesparawi, diharapkan dapat terbangun sikap saling mendukung, dan rasa saling memiliki satu dengan lainnya, terutama dalam menjalankan fungsi sebagai gereja yang esa, kudus dan am.
Untuk saat ini Pesparawi bukanlah lagi hanya kegiatan di  kalangan gereja saja (baca: Kristen), tetapi telah menjadi milik masyarakat. Hal ini dengan gamblang terlihat pada pelaksanaan Pesparawi X tahun 2012 di Kendari di mana sebagian besarnya panita pelaksana diluar agama Kristen dan acara perlombaan dihadiri masyarakat Kendari yang mayoritas memeluk agama Islam. Jika merujuk pada fakta ini maka tepat disebut jika kegiatan ini telah memberi dampak bagi bumi dan negeri Indonesia.

Tema Pesparawi

Setelah 15 tahun reformasi digelorakan, sorak sorai dan masa depan yang dikumandangkan saat itu ternyata jauh dari harapan. Hal ini ditunjukkan dengan harga kebuhutuhan pokok yang masih jauh dari kemampuan beli masyarakat, jaminan keamanan yang rendah, biaya pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal, tingkat kemiskinan terus melonjak dibarengi dengan jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Selain itu, kasus kekerasan dengan latar belakang agama kesukuan, dan golongan, termasuk penutupan rumah ibadah, terus meningkat. Bahkan lebih memprihatinkan lagi adalah toleransi yang menjadi dasar hidup rukun di Indonesia sedang menuju titik terendah karena digugat oleh proses-proses yang makin mengkuatirkan. Hal ini menunjukkan ada yang salah dalam perjalanan kita berbangsa. Kita seakan-akan belum belajar dari pengalaman konflik Ambon, Poso, Sampit, dan lain-lainya, yang sangat jelas merugikan kita semua. Dalam hal ini Provinsi Maluku menjadi teladan di mana mereka yang pernah didera konflik sosial sedang berupaya mengembalikan kerukunan dengan menggunakan kembali tradisi pela gandong dimana semua orang saling bantu-membantu, gotong royong tanpa memandang latar belakang suku, agama. Dan sudah semestinya menjalin kerukunan akan menjadi kebutuhan setiap elemen dari bangsa yang majemuk ini. Dalam kaitan dengan hal-hal di atas, maka menjadi relevan jika nilai persaudaran juga mendapat perhatian kita bersama. Pada Pesparawi Nasional ke- XI di Ambon diusulkan tema “Sungguh Alangkah Baik dan Indahnya Hidup dalam Persaudaran yang Rukun” (Bdk. Maz. 133: 1). Tema ini menjadi relevan kita refleksi bersama sebagai semangat pelaksanaan Pesparawi XI dalam konteks pergumulan Ke-Indonesia-an.     Dalam Mazmur 133: 1, Pemazmur mau menggambarkan suasana umat Israel yang datang dari berbagai penjuru Israel berkumpul di Yerusalem di dalam kerukunan, keakuran, keharmonisan, dan keguyuban. Dan ketika arak-arakan itu berlangsung, pemazmur melihat sesuatu yang sangat indah, sesuatu yang tak ternilai harganya, yang harum aromanya, yaitu hidup rukun satu dengan yang lain. Pemazmur meyakini bahwa dalam kerukunan itulah berkat-berkat mengalir luar biasa.     Dalam keseluruhan bangunan Mazmur 133, berkat-berkat kerukunan itu dibuat  dua gambaran. Pertama, “seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya”. Minyak mempunyai makna kesukaan, keharuman, ketentraman, juga penyucian. Hal ingin menggambarkan bahwa Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkelimpahan melalui persekutuan mereka yang rukun dan penuh kasih. Kedua, akibat atau dampak kesatuan/kerukunan itu digambarkan juga “seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion”. Embun dalam nas ini memberikan pemahaman utama sebagai kesegaran ilahi yakni karunia kehidupan yang berkemenangan. Embun juga menyimbolkan kesuburan dan pertumbuhan.     Dengan didasari ayat ini umat Kristen meyakinan persaudaraan yang rukun adalah sesuatu yang indah dan baik adanya. Ayat ini juga mengundang keterlibatan umat Kristen di masa kini dari berbagai tempat untuk mewujudnyatakan suatu kualitas persekutuan/ persaudaraan antar umat manusia yang mendiami bumi; di mana orang per orang mampu hidup berdampingan dengan sukacita, tanpa rasa takut meskipun berasal dari latar belakang suku, agama, ras, status sosial yang berbeda. Tema Pesparawi kali ini mengaharapkan Gereja (baca: umat Kristen) sebagai bagian dari bangsa ini, mensyukuri dan merayakan kemajemukan agama, suku, budaya,  yang ada di Indonesia sebagai karunia Tuhan. Di dalam terang iman, kiranya tema pesparwi kali ini mendorong gereja untuk dapat mengumandangkan puji-pujian yang berkualias sebagai salah satu bentuk pelayanan dan kesaksiannya di tengah-tengah masyarakat majemuk.

Sub Tema
“Melalui Puji-pujian Kita Pererat Kasih Persudaraan dalam rangka Mewujudkan Indonesia yang Adil-Sejahtera, Demokratis, serta Menghargai Kemajemukan”

Pujian-pujian merupakan bagian penting dalam tata ibadah di mana pesan-pesan dalam lagu dikomunikasikan ke dalam dua arah yaitu secara vertikal, yakni kepada TUHAN dan secara horizontal yakni bagi sesama manusia.  Di dalam Alkitab, berulang-ulang puji-pujian ini disinggung  oleh para penulis kitab sebagai bentuk aktualisasi iman dari masa ke masa di tengah keragaman budaya.
Seperti yang kita ketahui bersama dalam sebuah lagu terdiri dari beberapa unsur seperti: syair/pesan, nada-nada,  alunan musik yang beragam yang berkolaborasi sehingga menghasilkan keindahan. Lagu yang sarat makna dan pesan merupakan salah satu alternatif alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai spritual Kekristenan dari generasi ke generasi. Kesaksian iman secara pribadi mauapun secara komunal dapat disampaikan dengan lugas dan indah di dalam sebuah lagu. Bentuk-bentuk pengajaran, penguatan, penghiburan Gereja bagi umatnya di tengah berbagai situasi yang sedang dihadapi pun dapat dituangkan ke dalam lagu-lagu. 
PESPARAWI  merupakan sebuah wadah aktualisasi persekutuan bagi Gereja (baca: Umat Kristen) untuk membagikan berbagai  kesaksian imannya dari beragam konteks budaya dan pergumulan. Di dalamnya diharapkan terjadi  relasi yang indah: ada yang menghiburkan dan dihiburkan, ada yang dikuatkan dan menguatkan, ada yang didengarkan dan mendengarkan, ada yang ditopang dan menopang sebagai bentuk nyata kasih persaudaraan. Umat Kristen menyadari bahwa persaudaraan ini harus dibangun atas dasar kasih (bdk. Ibr 1:13, I Kor 13:13).  Semangat dan indahnya kasih persaudaraan ini tentunya tidak hanya diwujudkan dalam sebuah denominasi gereja saja, atau hanya pada suatu wilayah saja melainkan diwujudkan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tempat Tuhan menempatkan kita.

Dalam babak perjalanan saat ini dan ke depan, NKRI masih menghadapi berbagai persoalan ketidakadilan, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan, kekerasan dan diskriminasi atas nama SARA. Dengan menyadari hal-hal ini, PESPARAWI bukan hanya akan memperdengarkan  suara merdu , melainkan akan menyampaikan pergumulan ini dalam puji-pujian yang sarat akan makna kerukunan, keadilan, kesejahteraan dan sikap menghargai kemajemukan. Masing-masing kontingen diundang untuk menyampaikan kesaksian iman sebagai aktualisasi cerita kehidupan dan pergumulan di  dalam kemajemukan NKRI. Beragam suku, agama, ras, dan budaya merupakan warna-warni yang juga menjadi bagian kesaksian hidup umat Kristen. Ciri-ciri khas kebudayaan dari masing-masing kontingen diharapkan memperkaya puji-pujian yang akan disampaikan. Hingga akhirnya semua orang akan menyadari dan meyakini “Sungguh alangkah baik dan indahnya hidup dalam persaudaraan yang rukun” (bdk.Mzm 133:1)

TTD

 
Login Form
MP3 Player
Calendar
April 2014
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3